Panca Tunggal Seorang Pengajar

Panca Tunggal Seorang Pengajar

Pengertian Dasar Pengajar dan Pendidik

Meskipun sepintas lalu kedua istilah ini terbaca atau terdengar sebagai pasanan istilah yang identik, namun terdapat perbedaan yang mencakup besar diantara keduanya. Berdasarkan pandangan diatas dapat menimbulkan pertanyaan, Bagaimanakah halnya dengan seorang guru (untuk semua tingkat ajaran, termaksud didalamnya pelatih, dosen, guru besar dan sebagainya), cukuplah mereka hanya berprestasi sebagai seorang pengajar saja, ataukah mereka itu semuanya harus juga berkadar sebagai seorang pendidik? Dimensi kejiwaanlah yang akan menentukan dalam hal ini. Sebagai jawabannya yang bijaksana, setiap orang yang menjadi guru itu seyognya haruslah juga berjiwa pendidik, mengingat bahwa ilmu pengetahuan yang diajarkannya itu pasti memerlukan pemikiran pembuktian penerapan dan peragaan lebi lanjut pula dalam praktek kehidupan yang nyata, yang mana kesemua hal tersebut jelas masih menjadi tanggung jawab sang guru yang bersangkutan.

Jadi jelaslah bahwa seorang guru yang baik, tidaklah cukup hanya merupakan seorang pengajar saja tetapi ia pun harus betul-betul berjiwa pendidik. Inilah citra asli seorang guru.

Lalu bagaimana pula halnya dengan orang tua atau keluarga yang menjadi wali seorang anak yang belum dewasa? Bukan kah tidak semua orangtua menjadi guru. Apakah orang tua yang pekerjaannya tidak menjadi guru juga dapat digolongkan sebagai pendidik? Jawabannya ialah ; ya, karena meskipun mereka bukan guru, setiap orang tua itu pasti menjadi pengajar juga bagi anak-anak mereka, hanya saja secara informal karena pengajaran yang formal sudah merupakan “porsi utama” kegiatan dan tanggung jawab para guru disekolah atau para dosen/guru besar di akademi/universitas.

✅REKOMENDED:  Oreientasi Pelaksanaan Pendidikan Agama

Dengan demikian nyatalah bahwa pengertian pendidik selain mengandung arti para guru dalam arti luas yakni semua pengajar segala lembaga pendidikan formal, juga mencakup orang tua atau keluarga yang menjadi wali seorang anak yang belum dewasa.

Sendi-sendi atau Anasir-anasir Dasar yang Harus Ada dalam Jiwa Seorang Pengajar

Dalam pembicaraan kita diatas telah kita buktikan bahwa selaku seorang pendidik, seorang pengajar haruslah benar-benar mempunyai target kejiwaan sebagai seorang pendidik yang baik, dalam arti yang sukses dan potensial sehingga ia dengan mudah dapat pencapaian kegemilangan dalam pengembanan tugas kehidupannya, sebagaimana hal ini tentu saja telah menjadi harapan semua orang.

Jadi meskipun secara formal-badaniah seorang pengajar itu adalah proses pendidik, namun secara material-batiniah seorang pengajar itu tidak dengan sendirinya dapat digilongkan sebagai seorang pendidik. Hail ini disebabkan karena untuk dapat menjadi seorang pengajar yang murni dalam arti pengajar yang sungguh berjiwa pendidik, pengajar tersebut haruslah secara lengkap memiliki sendi-sendi atau anasir-anasir jiwa pendidik yang essensial yang masing-masing ialah:

✅REKOMENDED:  Contoh Membuat Silabus SKI Untuk SMP/MTS

a. Sendi Bakat, sebagai sumber utama timbulnya segala keahlian dan kemahiran si pengajar yang bersangkutan untuk menjalankan tugasnya dalam medan baktinya.

b. Sendi Hobi atau kesukaan, sebagai sumber uatama bagi timbulnya segala kerajinan, inisiatif/potensi yang jituvdan segala kesabaran serta ketabahan yang bersangkutan dalam menghadapi berbagai keadaan yang bisa saja timbul dalam pelaksanaan tugasnya.

c. Sendi Kasih Sayang, sebagai sumber utama timbulnya jalinan batin yang membuat membawa keakraban timbal-balik antara pengajar tersebut dengan semua muridnya, yang tentunya harus diusahakan, dibina dipertahankan semerata mungkin kepada setiap murid tanpa adanya “sistem anak emas” atau pilih kasih

d. Sendi Tanggung Jawab, yang dengan sendirinya akan timbul bila sendi kasih sayang telah terbina. Disamping itu sendi tanggung jawab ini merupakan sendi penjamin yang cukup kuat bahwa pengajar yang bersangkutan akan melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya.

e. Sendi Kemantapan, yang merupakan sendi penjamin akan kepastian titik keberhasilan yang menjadi tujuan dan target minimal yang harus dicapai oleh pengajar yang bersangkutan dlama tugasnya, yang pada dasarnya adalah mutu pendidikan yang tinggi dan memadai dalam arti cukup berfaya guna untuk dapat dipraktekan oleh para muridnya, baik pada masa sekarang maupun pada masa-masa yang akan datang dan seterusnya.

✅REKOMENDED:  Pengembangan Kurikulum di indonesia

Hakekat dan Fungsi Kelima Sendi Tersebut

Bila seandainya kelima sendi atau anasir dasar tersebut di atas telah berhasil terbina dalam jiwa seorang pengajar, maka kenyataan selanjutnya akan membuktikan bahwa kelima sendi tersebut akan membentuk suatu persatuan yang bulat dan amat erat tanpa dapat dicerai pisahkan satu sama lain. Adanya Hubungan erat antara lima sendi tersebut dapat dibuktikan dari beberapa hakekat dasar berikut ini :

a. Sendi BAKAT amat erat hubungannya dengan sendi HOBI meskipun kedua sendi tersebut tidak selalu ada secara bersamaan dalam diri seseorang.

b. Sendi KASIH SAYANG amat erat hubungannya dengan sendi TANGGUNG JAWAB terhubung dengan adanya kasih sayang terhadap anak didik, rasa tanggung jawab anda akan keberhasilan mereka akan terasa lebih tajam lagi.

c. Sedangkan sendi KEMANTAPAN berhubungan timbal-balik secara fungsional dengan keempat sendi lainnya.