Menjaga Pergaulan Remaja DiSekolah Dan Dikeluarga

Pergaulan Remaja yang Sehat di Lingkungan
Sekolah dan Keluarga

Remaja mempunyai urgensi yang sangat penting dan vital dalam pembangunan dan perkembangan kehidupan manusia yang akan datang. Masa depan suatu negara ditentukan oleh bagaimana kualitas generasi muda yang akan
datang. Masa remaja merupakan masa transisi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak menuju ke arah dewasa. Tak jarang banyak terjadi gejolak dan masalah pada remaja, mereka memiliki semangat dan rasa ingin tahu yang besar, serta berusaha mencari jati diri menuju ke arah dewasa. Pergaulan bebas di kalangan remaja diidentikkan dengan pergaulan remaja yang menyimpang dan biasanya mengarah pada perbuatan seks. Pada era yang semakin maju semakin beragam pula tingkah laku remaja yang menyebabkan beberapa masalah sosial yang terjadi di masyarakat. Perkembangan teknologi pun juga dapat banyak memberi pengaruh buruk bagi remaja karena kurangnya edukasi yang diberikan kepada remaja sebagai filter. (Roy, 2011).


Yayah Khisbiyah, misalnya, mengutip hasil penelitian tentang angka kehamilan yang tidak diinginkan di kalangan remaja. Sebuah Lembaga konseling remaja, tahun 1990 menangani sekitar 80 kasus kehamilan di luar nikah pada remaja usia 14 24 tahun. Penelitian yang dilakukan oleh Warouw di Manado mendapatkan hasil sebanyak 472 (71,3%) dari 663 sampel remaja yang diambil secara acak, mengalami kehamilan yang tidak diinginkan dan berusaha melakukan induksi haid. Dari jumlah tersebut, 291 responden (28,8%) berusia 14 19 tahun, 345 responden (52%) berusia 2024 tahun (Husniaty, E. Noor, 2016). Kehidupan seharihari para remaja tidak terlepas dari pengaruh yang konstruktif dan pengaruh destruktif. Sebenarnya kedua sipat itu telah ada semenjak manusia (remaja) dilahirkan. 3 Sifatsifat ini akan berpengaruh pada para remaja, tergantung dimana remaja itu berada. Jika remaja tersebut ada pada lingkungan yang tidak baik maka yang akan dominan adalah pola tingkah laku yang tidak baik. Demikian pula sebaliknya (Kartini Kartono, 2005).

✅REKOMENDED:  Periode 18 agustus 1945 s.d 27 desember 1949 Sistem Pemerintahan Indonesia

Terjadinya pergaulan bebas di kalangan remaja pada umumnya bukan disebabkan pengetahuan melainkan oleh ketidaktahuan mereka dalam hal seks. Adapun yang menjadi faktor terjadinya pergaulan bebas adalah naluri seks yang tidak terkendali. Pemahaman ini menyimpulkan kecenderungan pergaulan bebas di kalangan remaja lebih dipegaruhi oleh dorongan nafsu seksual pada remaja yang sangat sulit untuk dikendalikan. Analisi situasi di SMK Muhammadiyah 4 Cileungsi tidak memiliki masalah yang signifikan dalam hal pergaulan bebas hanya saja disini kita wajib memberikan hal positif agar siswa memiliki masa depan yang baik dan pergaulan yang sehat. Sebuah penelitian pernah dilakukan di Pamekasan Madura yang mana hasil penelitian itu melaporkan tentang aksi sekolompok pelajar SMA yang melakukan aksi borong kondom di beberapa apotik. Aksi Borong Kondom tersebut tentu saja tidak hanya sebatas ‘membeli’ kondom saja. Kekhawatiran yang sangat mencolok adalah kelanjutan dari proses pembelian kondom itu sampai kepada perilaku seksual bebas yang kini marak terjadi pada
remaja di kota-kota besar.

Pada tahun 2007 dan 2010 KOMNAS Perlindungan Anak dan BKKBN pada melakukan penelitian tentang perilaku seksual sebelum menikah pada remaja, menunjukan hasil kecenderungan peningkatan. Menurut riset yang dilakukan
BKKBN remaja putri yang belum menikah di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi mengaku sudah tidak perawan dan bahkan tidak sedikit mengalami kasus kehamilan di luar nikah.

✅REKOMENDED:  materi biologi kelas 10

Sarwono (2017) mengatakan masalah seksualitas pada remaja timbul karena pengaruh berbagai faktor, antara lain : (1) Pada masa remaja terjadi peningkatan hormonal yang menyebabkan meningkatnya hasrat seksual pada remaja, sehingga mereka membutuhkan penyaluran melalui tingkah laku seksual, (2) Penundaan usia perkawinan. Baik secara hukum maupun norma sosial, menyebabkan meningkatkan syarat ketika akan menikah baik pendidikan, pekerjaan, dan persiapan secara mental, (3) Larangan, (4) Kurangnya informasi tentang Seks, (5) Ketidaktahuan orang tua serta masih dianggapnya pembicaraan mengenai seks dengan anaknya sebagai pembicaraan yang tabu membuat anak segan untuk bertanya dan bercerita mengenai pendidikan seksual, sehingga akhirnya banyak yang mencari tahu sendiri, (6) Pergaulan yang makin bebas. Masalah yang terlihat di SMK Muhammadiyah 4 Cileungsi adalah kurang pengetahuan siswa mengenai kendali diri dalam pergaulan sesame teman dilingkungan sekolah antara laki-laki dan permpuan.


Metode
Kegiatan ini dilakukan di SMK Muhammadiyah 4 Cileungsi pada Tanggal 22 Mei 2019. Persiapan : persiapan awal membuat proposal mengenai kegiatan yang akan dilakukan, melakukan survey Lapangan di SMK Muhammadiyah 4 Cileungsi, mengirimkan surat ijin ke SMK Muhammadiyah 4 Cileungsi, serta menggali informasi yang dibutuhkan, Pada Tahap pelaksanaan : mengadakan penyuluhan, memberikan sosialisasi, membuat Laporan dan terakhir tahap evaluasi. Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan dengan metode penyuluhan yang dilakukan dengan metode ceramah, dan dilakukan pretest dan posttest dengan diberikan pertanyaan untuk melihat peningkatan pengetahuan remaja tentang pengetahuan yang diberikan.

✅REKOMENDED:  belajar berhitung anak sd kelas 1


Hasil dan Pembahasan
Berdasarkan kegiatan ini dilakukan di SMK Muhammadiyah 4 Cileungsi pada Tanggal 22 Mei 2019. (1) Memberikan soal pretest kepada siswa dan memberikan waktu 20 menit untuk menjawab 10 pertanyaan mengenai pergaulan yang sehat, (2) Tim memberikan penyuluhan berbentuk power point dan menjelaskan kepada para remaja, dan (3) memberikan soal posttest kepada siswa dan memberikan waktu 20 menit untuk menjawab 20 pertanyaan mengenai
pergaulan yang sehat

 

kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berjalan dengan baik dan lancar sesuai jadwal dan rencana dan siswa dapat memahami materi yang disampaikan terlihat dari beberapa pertanyaan yang diberikan. Merokok merupakan suatu kebiasaan yang merugikan bagi kesehatan dan jembatan ke penyalahgunaan napza. Hal ini sangat merugikan generasi muda kedepannya sehingga kita harus memberikan sosialisasi yang terus menerus, karena perilaku menyimpang pada remaja lambat laun semakin meningkat dan terkadang dianggap masyarakat sebagai kenakalan remaja yang wajar dilakukan. Hal ini banyak kita temui di kehidupan seharihari seperti di lingkungan rumah, kendaraan umum, tamantaman kota, bahkan di wilayah sekolahan. Saran : 1) Sekolah memiliki agenda dalam memberikan edukasi kepada siswa terkait kesehatan diri maupun kespro. 2) Siswa harus memiliki motivasi dalam menjaga kesehatan diri dan mengikuti kegiatan sekolah. 3) Melakukan penyuluh secara terprogram mengenai pergaulan yang sehat pada remaja.